Filsafat Manajemen Pendidikan Islam

By admin96 13 Okt 2021, 14:40:37 WIB Pendidikan
Filsafat Manajemen Pendidikan Islam

Oleh : Salman Fathurohman

Pendahuluan

Salah satu ilmu pengetahuan yang sedang berkembang saat ini ialah ilmu manajemen pendidikan. Fokus kajian ilmu ini banyak menjadi perhatian dari para kalangan pelajar, akademisi dan sebagainya. Adapun materi yang dikaji sangat berkaitan erat dengan bagaimana caranya mengelola lembaga pendidikan Islam, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, pengaktualisasian, pengawasan dan pengevaluasian yang sangat penting bagi keberlangsungan lembaga pendidikan Islam agar berjalan secara efektif dan efisien.

Kondisi ini menjadi sinyal positif, sehingga dengan sangat cepat direspon oleh perguruan tinggi Islam yang selanjutnya banyak mendirikan program studi manajemen pendidikan Islam. Namun yang masih menjadi pertanyaan, setelah berhasil didirikannya program studi manajemen pendidikan Islam ini, apa sajakah kurikulumnya? sebagian cendekiawan menjawab bahwa mayoritas masih sangat menginduk kepada ilmu-ilmu yang dicetuskan oleh barat yang sekuler. Tentu ini akan menjadi persoalan baru, sebab terdapat kontradiksi antara budaya barat dengan budaya Islam.

Dinamika ilmu manajemen pendidikan senantiasa berkembang sejalan dengan semangat zaman. Ilmu manajemen pendidikan merupakan satu bagian dari ilmu pengetahuan yang diciptakan, dikembangkan dan dimanfaatkan bagi kemajuan pendidikan Islam. Perkembangan ilmu pengetahuan sudah banyak mewarnai dan menyumbangkan kemajuan bagi peradaban manusia, me-manage atau cara mengelola suatu lembaga pendidikan Islam menjadi satu diantara sumbangan tersebut.

Manajemen pendidikan Islam sebagi jenis ilmu pengetahuan tentu memiliki ciri-ciri yang khusus mengenai apa (ontologi), bagaimana (epsitemologi), dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan  manajemen disusun. Ketiganya berkaitan satu dengan yang lainnya.

Keterkaitan antara ontologi, epistemologi, dan aksiologi seperti juga lazimnya keterkaitan masing-masing sub sistem dalam suatu sistem membuktikan betapa sulit untuk menyatakan yang satu lebih penting dari yang lain, sebab ketiga-tiganya memiliki fungsi sendiri-sendiri yang berurutan dalam mekanisme pemikiran. 

Manajemen Pendidikan Islam Tinjauan Ontologis

Ontologi adalah cabang filsafat ilmu yang membicarakan tentang hakikat ilmu pengetahuan. Menurut Muhadjir ontologi adalah ilmu yang membicarakan tentang the being, yang dibahas ontologi adalah hakikat realitas.[1]Manajemen Pendidikan Islam adalah suatu proses pengelolaan lembaga pendidikan secara Islami dengan cara mengkoneksikan dan mengkombinasikan berbagai sumber daya pendidikan yang ada dan hal yang terkait untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efisien.

Menurut Irawan, inti dari manajemen adalah pengelolaan baik dalam organisasi, lembaga atau perkumpulan tertentu. Pengelola dan yang dikelola itu adalah manusia. Substansi dari konsep pengelola dan yang dikelola atau pengelolaan adalah tindakan dari manusia itu sendiri.[2] Dengan demikian, inti dari manajemen dalam sebuah lembaga, organisasi atau perusahaan adalah tindakan orang-orang yanag ada di dalamnya (human action).

Landasan ontologis Manajamen Pendidikan Islam itu berada dalam domain kajian antropo-fisik dan metafisik yang bersandar pada teori ontologi dualisme pengada manusia yaitu fisik/jasmani dan metafisik/ruhani. Secara ontologis, keseimbangan antara aspek jasmani dan ruhani dari sang pengelola (manager) dan orang-orang yang dikelola (employer) menjadi dasar pencapaian manajemen pendidikan Islam.[3]

Selanjutnya, aspek yang realitas yang dijangkau teori dan manajemen pendidikan melalui pengalaman pancaindera adalah dunia pengalaman manusia secara empiris, baik yang berupa tingkat kualitas maupun kuantitas hasil yang dicapai.[4] Objek materi manajemen pendidikan ialah serangkaian proses mengenai kegiatan kependidikan, yakni perencanaan, pengorganisasian, pengerahan (motivasi, kepemimpinan, pengambilan keputusan, komunikasi, koordinasi, negosiasi, dan pengembangan organisasi) dan pengendalian (meliputi pemantauan dan penilaian pelaporan).

Dalam manajemen modern, teknlogi menjadi kunci keberhasilan suatu pengelolaan, selain dari sumber daya manusia. Dengan penggunaan teknologi mengakibatkan perubahan orientasi pengelolaan, dulu faktor yang menentukan adalah manusia dan orientasi pengelolaannya diarahkan pada aktivitas-aktivitas manusiawi. Sementara itu, sejak hadirnya teknologi, pekerjaan yang sulit dilakukan oleh manusia dapat digantikan dan diselesaikan oleh mesin/teknologi.

Hal lain yang menjadi dasar sebuah organisasi adalah nilai, nilai merupakan dasar atau inti (core values) dari organisasi. Apa yang diyakini oleh seorang manajer dan apa yang dianggap benar olehnya merupakan apa yang dicerminkan oleh adat kebiasaan dan budaya yang dijalankan oleh organisasi.

Berdasarkan uraian di atas maka ontologi dari manajemen ialah berisi tentang filsafat manajemen yang berupaya menangkap inti sari dari kegiatan manajemen, yaitu tindakan manusia (human action). Tindakan manusia sangat dipengaruhi oleh pemahaman tentang hakikat manusia, perkembangan teknologi dan nilai-nilai yang dianut oleh manusia itu sendiri.

Manajemen Pendidikan Islam Tinjauan Epistemologis

Epistemologi merupakan cabang ilmu filsafat yang membicarakan tentang teori ilmu pengetahuan. Cabang ini berusaha menemukan jawaban atas pertanyaan bagaimana ada itu berada. Proses ada itu dari sisi ilmu pengetahuan tentu mengikuti prinsip-prinsip teoritik yang jelas.[5]

Beberapa isu penting epistemologi organisasi adalah menyelidiki; 1) aspek-aspek kualitas dari teori organisasi yang diperkirakan dapat memperkuat praktik manajemen; 2) sejumlah perangkat kognitif dan strategi penjelasan rasional teori tersebut sehingga dapat meligitimasi eksistensi manajemen sebagai sebuah ilmu.[6]

Objek yang dikaji ilmu manajemen adalah fakta dan realitas. Objek yang dikaji adalah keteraturan dengan menggunakan sejumlah instrumen yang membenarkan kereraturan itu sendiri. Namun, keteraturan sebagi fakta tidak selalu menjadi suatu realitas yang mengejar nilai-nilai yang menjadi energi dan motivasinya. Keteraturan dengan efisiensi yang diharapkan kadangkala melahirkan hal yang inefesien, dan itulah realitas. Pada setiap lokus yang dikembangkan oleh keteraturan, fakta dan realitas saling bermain dalam keteraturan itu sendiri, sehingga jika kita menempatkan keteraturan dalam lokus keadilan misalnya, keteraturan yang dicapai adalah keteraturan yang adil.[7]

Epistemologi ilmu manajemen berkembang sampai pada realitas empiris dan pertimbangan rasional yang melahirkan sejumlah ilmu manajemen dalam berbagai lokusnya dan nilai yang dikejarnya. Kelahiran ilmu manajemen dalam berbagai lokus nilai yang dikejarnya ini, dipengaruhi pula oleh realitas-realitas yang mempengaruhi keteraturan yang dikembangkan oleh ilmu manajemen.[8]

Peran ilmu dalam mengembangkan praktik organisasi dapat diungkap melalui beberapa konsep manajerial, seperti auditing, monitoring, dan kualitas kerja organisasi. Ketiga konsep ini berkait erat dengan persoalan-persoalan episetmologis seperti transparansi, integritas dan keterbukaan, indikator, pengukuran dan tanggungjawab perusahaan.[9]

Menurut Irawan, terdapat dua konsep yang terlihat aksiologis, namun harus ditarik ke ranah epistemologi supaya secara teoritis memunculkan pembaruan keilmuan. Diantaranya adalah transparansi dan integritas.

Secara epistemologi ‘transparansi’ dapat bermakna bahwa semua ilmu harus jernih, jelas (muhkam/wudh?h) dan berbeda dengan yang lain (clear and distinct). Komunitas intelektual yang ideal adalah komunitas yang terbuka dan sama sekali tidak boleh memiliki sisi gelap. Misalnya, efek samping dari obat yang dijual bebas pun harus secara rinci disebutkan dalam kemasan. Berarti, dalam kuasa ilmu harus ada transparansi atau keterbukaan.[10]

Konsep berikutnya adalah integritas. Integritas berasal dari bahasa Latin ‘integer’ yang bermakna ‘keseluruhan’, ‘lengkap’, ‘tidak terpecahpecah’, ‘utuh’, atau ‘satu kesatuan’ (k?ffah). Konsep-konsep ini sering digunakan dalam bidang kedokteran, teknologi, etika dan pendidikan. Integritas mencerminkan sesuatu yang sangat berharga dan bernilai, berdasarkan situasi dan kondisi yang dipertimbangkan secara komprehensif. Tindakan yang dilandasi integritas bermakna bahwa tindakan itu dilakukan secara utuh dan satu kesatuan, antara perbuatan dengan perkataan, bukan karena tunduk dan patuh karena mengikuti aturan, tidak berniat jahat (nothaving a suspect agenda), tidak mengatakan atau bertindak pada suatu waktu ‘A’ sementara pada saat yang lain tanpa atau dengan sebab-sebab yang khusus bertindak dan berkata ‘non-A’. Menghadirkan integritas bukan asal membuat orang lain merasa senang atau secara eksklusif berupaya memenuhi kepentingan pribadinya.[11]

Manajemen Pendidikan Islam Tinjauan Aksiologis

Teori manajemen pendidikan tidak hanya diperlukan sebagai ilmu yang otonom, tetapi juga diperlukan untuk memberikan dasar yang sebaik-baiknya bagi pendidikan sebagai proses pembudayaan manusia secara beradab. Oleh karena itu, nilai manajemen pendidikan tidak hanya bersifat intrinsik sebagai ilmu, seperti seni, untuk seni, tetapi juga harus memiliki nilai ekstrinsik dan ilmu untuk menelaah dasar-dasar kemungkinan bertindak melalui kontrol terhadap pengaruh negatif dan meningkatkan pengaruh positif pada pendidikan.[12]

Aksiologi atau etika merupakan studi mengenai prinsip-prinsip dan konsep yang mendasari penilaian terhadap prilaku manusia. Aksiologi adalah cabang dari filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Menurut Jujun Surisumantri, aksiologi sebagai teori nilai berkaitan dengan kegunaan dan pengetahuan yang diperoleh. Sedangkan nilai itu sendiri merupakan sesuatu yang berharga yang diidamkan setiap insan.

Etika manajemen menginvestigasi pertanyaan tentang tindakan macam apakah yang paling baik atas manajemen yang dijalankan pada sebuah organisasi. Munculnya kajian etika bisnis dikarakterisasi oleh nilai-nilai etis keagamaan, seperti etika protestan, akhlak dalam agama Islam dan moral katolik. Mereka mempromosikan norma-norma agama seperti integritas, menghargai kerja keras/ruhul jihad, ikhtiar dan prilaku bermanfaat.

Setidaknya ada lima hal penting dalam membahas etika dan kepemimpinan manajemen; memahami makna konsumen politis, investasi etis, tanggungjawab sosial dan etis perusahaan, akunting yang beretika dan dorongan nilai dalam manajemen.

Dengan cara ini, maka akan semakin terjalin kedekatan antar nilai-nilai perusahaan dengan nilai-nilai masyarakat secara total, keseluruhan, dan terintegrasi guna menciptakan kehidupan dan peradaban yang lebih baik, diantaranya meningkatkan kesejahteraan yang lebih baik. masyarakat sejahtera akan menciptakan negara yang sejahtera. Negara yang sejahtera pada gilirannya akan bergerak menciptakan pekerja-pekerja yang baik dan penuh dedikasi.

Daftar Pustaka

Arif Syihabuddin, Muhammad. Maret, 2020. Manajamen Pendidikan Islam dalam Tinjauan Epistemologi. “Jurnal JALIE: Journal of Applied Linguistics and Islamic Education Volume IV. Nomor 01.

Endraswara, Soewardi. (2013). Filsafat Ilmu (Konsep, Sejarah Dan Pengembangan Ilmiah). Yogyakarta : CAPS.

Irawan. (2019). Filsafat Manajemen Pendidikan Islam. Bandung : PT Remaja Rosdakarya,

Irawan. November, 2016. “Paradigma Keilmuan Manajemen Pendidikan Islam”. Jurnal Manageria : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam. Volume I. Nomor 2.

Uwes, Sanusi & Rusdiana. (2017). Sistem Pemikiran Manajemen Pendidikan. Bandung : Pustaka Setia

 

[1]Soewardi Endraswara, Filsafat Ilmu (Konsep, Sejarah Dan Pengembangan Ilmiah), (Yogyakarta : CAPS, 2013), cet. Ke-2, hlm. 96.

[2]Irawan, Filsafat Manajemen Pendidikan Islam, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2019), hlm. 90.

[3]Ibid.,

[4]Sanusi Uwes & Rusdiana, Sistem Pemikiran Manajemen Pendidikan, (Bandung : Pustaka Setia, 2017), hlm. 99.

[5]Soewardi Endraswara, Filsafat Ilmu (Konsep, Sejarah Dan Pengembangan Ilmiah), (Yogyakarta : CAPS, 2013), cet. Ke-2, hlm. 118.

[6]Irawan, “Paradigma Keilmuan Manajemen Pendidikan Islam”, dalam Jurnal Manageria : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, I, 2 (November, 2016), hlm. 299.

[7]Muhammad Arif Syihabuddin, Manajamen Pendidikan Islam dalam Tinjauan Epistemologi, dalam “Jurnal JALIE: Journal of Applied Linguistics and Islamic Education IV, 01, (Maret, 2020), hlm. 135

[8]Ibid,.

[9]Irawan, Filsafat Manajemen Pendidikan Islam, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2019), hlm. 96.

[10]Irawan, “Paradigma Keilmuan Manajemen Pendidikan Islam”, dalam Jurnal Manageria : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, I, 2 (November, 2016), hlm. 301.

[11]Ibid,.

[12]Sanusi Uwes & Rusdiana, Sistem Pemikiran Manajemen Pendidikan, (Bandung : Pustaka Setia, 2017), hlm. 103.




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment