Pendidikan Keluarga
Proses Internalisasi Nilai-nilai Islam dalam Membentuk Karakteristik Anak

By admin96 21 Apr 2022, 09:42:26 WIB Dunia Islam
Pendidikan Keluarga

Gambar : Pendidikan Keluarga


Oleh : Fahri Sahrul Ramadhan

Berbicara mengenai pendidikan tentunya tidak lepas dari yang namanya per-Sekolahan. Sebagian orang beranggapan bahwa sekolah merupakan satu-satunya pusat pendidikan. Dikatakan demikian, karena sekolah merupakan lembaga yang bersifat formal dan terstruktur dengan adanya jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai dengan pendidikan tinggi. Adakalanya, hal tersebut sangat memungkinkan sekali. Akan tetapi, pada kenyataannya terdapat banyak sekali unsur-unsur yang dikategorikan sebagai pusat pendidikan salah satunya adalah Keluarga. Keluarga merupakan pusat pendidikan yang utama dalam hal membentuk karakteristik anak. Apalagi, pada fase-fase awal perkembangannya. Oleh sebab itu, penting sekali bagi orangtua untuk menciptakan lingkungan edukatif[1] dalam keluarga. Mengingat bahwa, secara tidak langsung anak hampir setiap hari bersentuhan dengan lingkungan keluarganya. Dalam tulisan ini akan di bahas mengenai Keluarga sebagai institusi pendidikan, peran orangtua dalam membentuk karakter Islami anak, proses internalisasi nilai-nilai Islami pada anak, dan metode pendidikan keluarga bagi anak dalam Islam.

Keluarga sebagai Institusi Pendidikan

Selain adanya guru dan peserta didik, biasanya Institusi Pendidikan memiliki perangkat atau variabel-variabel diantaranya pola pembelajaran yang terencana (Kurikulum), pedoman administrasi-administrasi, desain pembelajaran interaktif, sistem evaluasi, dan perangkat-perangkat lainnya. Namun, itu hanya bagian kecil dari konsepsi pelaksanaan suatu pembelajaran.[2] dengan kata lain, institusi pendidikan lebih mengkhususkan diri untuk kegiatan pendidikan, tempat masyarakat mentransfer keterampilan, kebiasaan, cita-cita, nilai, dan pengetahuan dari generasi ke generasi yang lainnya. Akan tetapi, apakah keluarga juga bisa di sebut sebagai institusi pendidikan? Tentunya, institusi pendidikan juga tidak mulai dari “ruang hampa”. Institusi pendidikan/sekolah menerima anak setelah anak itu melalui berbagai pengalaman dan sikap serta memperoleh banyak pola tingkah laku dan keterampilan. Dapat dikatakan bahwa, sifat-sifat dasar anak telah terbentuk selama masa-masa pertama dimana keluarga merupakan pusat pendidikan yang urgen dan asasi.[3]

Di masa lalu, orang mendidik anaknya tanpa bantuan orang lain. Seperti halnya dalam kehidupan masyarakat primitif, keluarga menjalankan proses pengembangan sosial anak dengan memperkenalkan berbagai keterampilan, kebiasaan, dan nilai-nilai yang berlaku di dalam kehidupan komunitasnya. Karena kehidupan masyarakat primitif masih sederhana, baik dalam anasir maupun isinya, maka pola pendidikannya pun masih sangat sederhana. B. Clarke mengungkapkan bahwa sistem pengajaran paling kuno tidak lebih dari proses ibu menyadarkan putrinya atau ayah menyadarkan puteranya. Mereka berdua hidup bersama saling bercakap-cakap dan bekerjasama. Maka dapat ditegaskan bahwa pada zaman batu (primitif) belum ada pelajaran dasar tentang memotong dan menghaluskan batu. Yang ada hanya anak-anak belajar meruncingkan batu dengan memperhatikan apa yang diperbuat oleh orang dewasa.[4] Dengan begitu, peristiwa tersebut mampu membuktikan bahwa keluarga menjadi bagian terpenting dalam proses pendidikan.

Keluarga sebagai pusat pendidikan pertama, mempunyai tugas fundamental dalam mempersiapkan anak bagi peranannya di masa depan. Dasar-dasar perilaku, sikap hidup dan berbagai kebiasaan ditanamkan kepada anak sejak dalam lingkungan keluarga.[5] Tentunya, sikap hidup dan kebiasaan berperilaku yang mencerminkan nilai-nilai Islam, karena Islam merupakan agama yang mampu mencerminkan sikap saling menyayangi, mengasihi, bekerja sama, serta berkorban satu sama lainnya. Hal tersebut tidak lepas dari penerapan hasil identifikasi nilai yang ada dalam Al-Quran dan As-sunah. Oleh sebab itu, Apabila sikap hidup dan perilaku seperti itu dikembangkan sejak dini akan sangat membekas pada diri anak dan merupakan landasan kepribadian yang kokoh untuk menuju terbentuknya pribadi muslim yang memiliki kepribadian manusia seutuhnya.

Karenanya, Keluarga adalah lembaga pendidikan yang bersifat kodrat karena terdapatnya hubungan antara pendidik dan anak didiknya. Karena sifat ini maka wewenang pendidik dalam keluarga (orang tua) juga bersifat kodrat, dan wewenang ini tidak dapat diganggu gugat, kecuali jika keluarga tersebut tidak mampu melaksanakan tugasnya tadi. Dengan adanya ikatan yang bersifat kodrati ini maka terdapat hubungan yang erat antara pendidik dan anak didik atau antara orang tua dengan anak. Begitu pentingnya peranan yang dimainkan oleh keluarga dalam mendidik anak-anaknya. Maka dalam berbagai sumber bacaan mengenai kependidikan, keluarga selalu disinggung dan diberi peran yang penting. Karena pada hakekatnya, pembentukan kepribadian anak terjadi di lingkungan keluarga.[6] Oleh sebab itulah, keluarga dianggap sebagai sebuah institusi pendidikan.

Peran Orangtua dalam Membentuk Karakter Islami Anak

Sebuah analogi menggambarkan bahwa, jika salah seorang membangun sebuah rumah, tentunya ada sesuatu hal yang harus dipersiapkan dan dibangun terlebih dahulu diantaranya pondasi, pondasi menjadi dasar pijakan agar rumah bisa berdiri dengan kokoh. Barulah, setelah itu bisa dibangun dengan komponen-komponen lainnya seperti memasang tembok sebagai dinding, atap, dan genting sebagai peneduh rumah tersebut. Sama halnya dalam keluarga, orangtua mempunyai tugas utama untuk memberikan peranannya dalam membentuk karakteristik anak. Karena, pendidikan di lingkungan keluarga merupakan pendidikan jangka panjang yang akan terus ditempuh oleh anak. Oleh sebab itu, selain memberikan pemahaman dasar kepada anak, orangtua juga sangat berperan dalam membentuk kepribadian anak, tentunya keperibadian tersebut dibentuk dengan pengetahuan, pengalaman, nilai-nilai, serta etika atau pun adab yang baik hasil dari implementasi berdasarkan tuntunan agama (Islam). Dengan begitu anak akan lebih siap menghadapi tantangan dimasa yang akan datang.

Dalam penerapannya orangtua memiliki peluang yang sangat besar untuk memperkenalkan education of religion. Apalagi, pada dasarnya dalam Islam penyemaian rasa agama dimulai sejak pertemuan ibu dan bapak yang membuahkan janin dalam kandungan, yang dimulai dengan do’a kepada Allah, agar janinnya kelak lahir dan besar menjadi anak yang saleh.[7] Demikian keluarga tersebut telah merintis untuk dilaksanakannya rancang bangunan pendakian spiritual, jiwa dan mental anak untuk beragama. Dalam upaya membentuk karakter Islami anak, yang harus ditanamkan oleh orangtua pada anak diantaranya adalah diawali dengan membentuk akidah dan ibadah anak.

Pertama, membentuk akidah dengan menanamkan rasa kecintaan kepada Allah dan Rasulnya. Tentu, Tidak ada yang dapat mengalahkan rasa cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah, melainkan dengan kepercayaan yang tinggi, dan keimanan yang kuat agar kita tidak meniadakan dan mempersekutukannya dengan makhluk lain. Allah SWT adalah sang pencipta alam semesta dan segala isinya, sedangkan Rasulullah (Muhammad) adalah utusan-Nya. Oleh sebab itu, Jika semua rasa cinta ditanamkan dengan begitu si anak akan dapat menghadapi kehidupan kanak-kanaknya sekarang dan kehidupannya kelak di masa mendatang.

Kedua, Membentuk akidah dengan menanamkan rasa cinta kepada Al-Quran. Imam al-Ghazali menjelaskan pentingnya membentuk/menanamkan akidah sejak kecil agar anak tumbuh denganya. Beliau katakan; “Perlu anda ketahui bahwa penjelasan kami tentang definisi akidah harus diberikan kepada anak-anak sejak masa permulaan pertumbuhannya agar dia dapat menghafalnya. Kemudian bersamaan dengan pertumbuhannya dia akan memahami maknanya sedikit demi sedikit. Diawali dengan menghafal, kemudian memahami, lalu diikuti dengan meyakini dan membenarkannya. Itu ditemukan dalam diri anak tanpa ada bukti apapun yang dijelaskan. Merupakan karuni Allah SWT kepada manusia diawal masa pertumbuhannya untuk beriman tanpa memerlukan bukti maupun penjelasan terlebih dahulu. Kemudian beliau melanjutkan dengan menunjukan kepada kita tentang cara menanamkan akidah ini. Beliau katakan, “Dalam menanamkan dan meneguhkannya, bukan dengan cara mengajarkan berbicara dan berdebat. Tetapi, dengan cara menyibukannya membaca Al-Quran, dan mempelajari hadis dan maknanya.[8]

Mengajarkan Al-Quran kepada anak yaitu untuk mengarahkannya kepada keyakinan bahwa Allah SWT adalah Tuhan mereka dan ini adalah firman-firman-Nya. Agar ruh Al-Quran meresap kedalam hati mereka, cahayanya merasuk dalam pikiran dan indra mereka. supaya mereka mendapatkan akidah-akidah Al-Quran, tumbuh dengan kecintaan terhadap Al-Quran, menjalankan segala perintah didalamya, meninggalkan segala larangan yang terdapat padanya, berprilaku dengan akhlaknya dan berjalan sesuai dengan manhajnya.[9]

Selanjutnya membentuk ibadah anak, pembentukan aktivitas beribadah dianggap sebagai pelengkap bagi pembentukan akidah Islamiyyah. Sebab, Ibadah merupakan ransum utama untuk akidah. Demikian juga sebaliknya, ibadah merupakan refleksi dari gambaran akidah. Seorang anak ketika menyambjut panggilan Rabbnya dan menaati perintah-Nya, itu artinya dia sedang menyambut naluri fitrah dari dalam dirinya sendiri. dari berbagai pengarahan Nabi SAW kita perhatikan bahwa beliau memfokuskan pada lima dasar diantaranya ; mengajarkan shalat, mengajak anak ke Mesjid, melatih anak berpuasa, melatih ibadah Haji, dan melatih anak membayar zakat.[10] Ibadah-ibadah seperti ini mengandung maksud mendidik ruh dan mengarahkan pendidikan kepada orientasi akhlaki. Pada waktu yang sama, ibadah-ibadah tersebut merupakan daya pendorong bagi individu untuk menghadapi kehidupan nyata dengan segala problem dan rintangannya, disamping merupakan daya penggerak untuk merealisasi kebaikan bagi dirinya dan lingkungan sekitarnya.[11] Dengan begitu, dua aspek tersebut (Akidah & Ibadah) sangat dibutuhkan sekali. Mengingat, bekal yang diperoleh anak dari lingkungan keluarga akan memberinya kemampuan untuk memunculkan karakteristik anak tersebut sesuai kadar yang diberikan oleh orangtuanya.

Proses Internalisasi Nilai-nilai Islami pada Anak

Proses internalisasi[12] adalah proses penanaman. Tentunya, dalam hal ini adalah proses penanaman nilai-nilai Islam (Alquran & Assunnah) terutama pada diri anak. Proses internalisasi ini akan senantiasa melibatkan peran orangtua dalam memimbing dan mengarahkan anasir seperti apa yang mampu membentuk karakteristik/adab/akhlak anak. Oleh sebab itu, dalam hal ini perlu sekali dibahas mengenai proses dalam artian bukan hanya sekedar cara/metode pendidikan keluarganya akan tetapi pemahaman seperti apa yang menjadi sumber utama (materi) dalam hal membentuk karakter/akhlak anak.

Akhlak adalah jamak dari khuluq yang berarti adat kebiasaan (al-adat), perangai, tabiat, (al-sajiyyat), watak (al-thab), adab/sopan santu (al-muruat), dan agama (ad-din). Menurut ahli masa lalu (al-qudama), akhlak adalah kemampuan jiwa untuk melahirkan suatu perbuatan secara spontan, tanpa pemikiran atau pemaksaan. Sering pula yang dimaksud akhlak adalah semua perbuatan yang lahir atas dorongan jiwa berupa perbuatan baik dan buruk.[13] Al-Junaid r.a ditanya tentang akhlak. Dia menjawab, “Maksudnya adalah memperlakukan orang lain dengan baik.” pentingnya akhlak terlihat pada hubungan interaksi dan perlakukuan pada orang lain sampai pada penampilan yang penampilan yang merefleksikan kepribadian seorang anak maupun orang dewasa.[14] Oleh karena itu, kemampuan anak dalam menjalankan akhlak merupakan prioritas utama dalam pendidikan akhlak. Diantara pendidikan akhlak yang harus ditanamkan pada diri anak ialah Akhlak terhadap Allah dan Rasululloh, Akhlak terhadap Lingkungan, Akhlak terhadap Orang tua, Akhlak Penghormatan, Akhlak Persaudaraan, Akhlak Bertetangga, dan Akhlak kepada Ulama atau Guru.

Akhlak terhadap Allah dan Rasululloh, penanaman akhlak kepada Allah dan Rasululloh adalah bagian utama yang harus disampaikan pada anak, aklahq terhadap Allah dan Rasul-Nya artinya  bagaimana si anak senantiasa menyembah Allah dan mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi utusan Allah, dan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Akhlak terhadap Allah dapat dilakukan juga dengan cara berhubungan dengan Allah memalui media-media yang telah disediakan Allah, yaitu ibadah yang langsung kepada Allah seperti mengajari shalat, puasa dan berlatih haji, sebagaimana diterangkan dalam penjelasan yang telah lalu. Selanjutnya, Orangtua bisa mengajarkan berakhlak kepada Allah dengan diajarkan pula kalimat-kalimat Tahmid, Takbir, Tasbih, dan Tahlil. Hal ini dapat menjadikan anak kuat akidah dan tauhidnya.[15]

Akhlak terhadap Lingkungan, menanamkan anak cinta terhadap lingkungan sekitar dengan cara melatihnya menjadi manusia yang dapat memilihara dan menjaga lingkungan hidup agar tetap bersih dan sehat, serta menghindari dari pekerjaan yang dapat menimbulkan keruksakan lingkungan. Orangtua juga bisa mengajari anak supaya tidak membuang sampah sembarangan, dan tidak merusak tanaman.

Akhlak terhadap Orangtua, Orangtua harus mampu menanamkan akhlak terhadap dirinya sendiri ataupun kerabat lainnya. yaitu dengan cara mengajari anak agar dapat mencintai mereka dan berbicara lembut, melatih sikapnya agar dapat merendahkan diri kepada keduanya, dan mengajari komunikasi dengannya secara khidmat agar anak dapat berkomunikasi secara baik ketika dihadapkan dengan siapa saja.

Akhlak Penghormatan, menanamkan rasa penghormatan kepada anak adalah sesuatu yang baik. Apalagi, anak tidak hanya berinteraksi dengan teman sebayanya saja melainkan dengan lingkungan disekitarnya. Ajarilah anak dengan akhlak penghormatan yaitu dengan cara menghormati orang yang lebih tua darinya, dan menghargai orang yang sama dengannya. Hal tersebut bisa dilatih dengan mengawali ucapan salam kepada keduanya apabila bertemu dimana saja ataupun dengan hal lain yang sifatnya memberi rasa hormat.

Akhlak Persaudaraan, ditekankan bagi anak-anak, bahwa saudara paling tua memiliki kedudukan tersendiri dalam Islam. Itu karena dia juga ikut memikul beban keluarga dan bertanggung jawab atas pendidikan dan penjagaan terhadap adik-adiknya. Dalam riwayat Ath-Thabrani, Rasulullah SAW bersabda “Saudara tua berkedudukan laksana bapak”. Dengan begitu, kedua orangtua harus melatihnya dengan cara menanamkan dalam diri anak tertua rasa cinta dan kasih sayang kepada adik-adiknya, kemudian menanamkan kedalam diri anak bungsu sikap hormat kepada kakaknya yang lebih tua, maka keluarga tersebut akan mencapai keseimbangan.

Akhlak Bertetangga, Rasululloh SAW menganjurkan kepada para orangtua untuk membiasakan anak-anak mereka memiliki sikap yang baik kepada tentangga, diantaranya dengan mengajarkan kepada mereka sikap saling membantu di waktu senang lebih-lebih tatkala susah, mengajarkan sikap saling memberi dan menghormati, dan mengajarkan sikap saling menghindari pertengkaran dan permusuhan.

Akhlak kepada Ulama atau Guru, dari hadist yang diriwayatkan dari Ibnus Sunni, dalam salah satu BAB dalam kitab al-Adzkar karyanya diberi judul Bab “Larangan bagi Anak, Pelajar dan Penuntut Ilmu untuk memanggil Bapak, Guru, dan Syaikhnya dengan namanya secara langsung.” dia berkata: apa yang kami sebutkan tentang akhlak kepada orangtua berbanding lurus dengan akhlak kepada ulama, bahkan lebih. Karena, para ulama adalah pewaris para Nabi. Oleh karena itu, menghormati, menghargai, bersikap rendah hati, melayani, tidak bersuara keras dalam majelis, bersikap ramah, dan lemah lembut kepada mereka perlu dibiasakan kepada anak.”.[16]

Dengan demikian, proses internalisasi nilai-nilai islami pada anak sangat terarah sekali. Kendati masih banyak keutamaan akhlak-akhlak yang harus dipelajari oleh anak disamping akhlak-akhlak yang telah dikemukan diatas. Sebagai bagian dari proses internalisasi, maka sekiranya kita juga harus mengetahui bagaimana metode-metode yang baik dalam pendidikan keluarga, selanjutnya akan saya bahas dibawah ini.

Metode Pendidikan Keluarga Bagi Anak dalam Islam

Yang dimaksud dengan metode pendidikan disini ialah semua cara yang digunakan dalam upaya mendidik. Kata ‘metode’ disini diartikan secara luas. Karena mengajar adalah salah satu bentuk upaya mendidik, maka metode yang dimaksud disini mencakup juga metode mengajar. Metode pendidikan keluarga sama halnya dengan metode-metode pendidikan lainnya. Apalagi, metode yang dibutuhkan dalam mendidik anak. Yang perlu di bahas disini adalah pelaksanaan pengajaran itu sendiri, dan selanjutnya adalah metode pendidikan untuk mengembangkan aspek afektif menuju terbentuknya pribadi Muslim. Dalam Al-Quran dan Al-Hadist banyak ditemukan atau diterapakan berbagai macam metode pendidikan di keluarga. tentunya yang sangat menyentuh perasaan, mendidik jiwaa, dan membangkitkan semangat. Diantaranya Metode Hiwar (percakapan) Qurani dan Nabawi, Metode Kisah Qurani dan Nabawi, Metode Amtsal (Perumpaan) Qurani dan Nabawi, Metode Keteladanan, Metode Pembiasaan, Metode Ibrah dan Mau’izah, serta Metode Targhib dan Tarhib.[17]

Metode Hiwar (percakapan) Qurani dan Nabawi, Hiwar (dialog)[18] percakapan silih berganti antara dua pihak atau lebih mengenai suatu topik, dan dengan sengaja diarahkan kepada satu tujuan yang dikehendaki. Menurut An-Nahlawi dalam Al-Quran dan sunnah Nabi terdapat berbagai jenis hiwar seperti hiwar kitabi dan hiwar nabawi.

Hiwar kitabi, merupakan dialog yang diambil dari dialog antara Tuhan dan hamba-Nya. Tuhan memanggil hambanya dengan mengatakan, “Wahai orang-orang yang beriman, “dan hamba-Nya menjawab dalam kalbunya sambil mengatakan, “kusambut panggilan Engkau, ya Rabbi.“ Dialog antara Tuhan dan hamba-Nya ini menjadi petunjuk bahwa pengajaran seperti itu dapat kita gunakan; dengan kata lain, metode dialog merupakan metode pengajaran yang pernah digunakan Tuhan dalam mengajari hamba-Nya. Logikanya, kita pun dapat menggunakan dialog dalam pengajaran.

Hiwar nabawi, adalah hiwar yang digunakan oleh Nabi dalam mendidik sahabat- sahabatnya. Dia menghendaki agar sahabatnya mengajukan pertanyaan. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim disebutkan; “Pada suatu hari Rasululloh SAW menampakkan dirinya kepada orang banyak. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa dia bersabda, “Bertanyalah kepadaku. “Orang-orang takut untuk bertanya kepadanya. Maka datanglah seorang laki-laki, lalu duduk di hadapannya seraya berkata, “Wahai Rasululloh, apakah Islam itu? Dia menjawab “Engkau menyekutukan Allah… (dan seterusnya).

Metode ini menarik perhatian para sahabat karena sering sekali Jibril datang kepada Muhammad bertanya. Setelah Jibril itu pergi, Rasul mengatakan bahwa itu adalah Jibril, datang untuk mengajari mereka. memang ayat 101 surat Al-Maidah melarang orang bertanya, yaitu tentang hal-hal yang bila ditanya akan menyusahkan. Oleh karena itu, datangnya Jibril untuk menjelaskan bolehnya bertanya apabila dimaksudkan untuk mengambil faedah seperti untuk mengajar.[19] Dari uraian tersebut kita mengetahui bahwa metode hiwar adalah metode pendidikan Islami, terutama efektif untuk menanamkan iman, yaitu pendidikan rasa (afektif).

Metode Kisah Qurani dan Nabawi, Dalam pendidikan Islam, terutama pendidikan agama Islam (sebagai suatu bidang studi), kisah sebagai metode pendidikan amat penting. Dikatakan amat penting, alasannya anatara lain sebagai berikut: Pertama, kisah selalu memikat karena mengundang pembaca atau pendengar untuk mengikuti periatiwa, merenungkan maknanya, selanjutnya, makna-makna itu akan menimbulkan kesan dalam hati pembaca atau pendengar tersebut. Kedua, kisah Qurani dan Nabawi dapat menyentuh hati manusia karena kisah itu menampilkan tokoh dalam konteksnya yang menyeluruh, pembaca atau pendengar dapat ikut menghayati atau merasakan isi kisah itu, seolah-olah ia sendiri yang menjadi tokohnya. Ketiga, kisah Qurani dan Nabawi mendidik perasaan keimanan.[20]

Metode Amtsal (Perumpaan), Adakalanya Tuhan mengajari umat dengan membuat perumpamaan, misalnya dalam surat Al-Baqaarah ayat 17; “Perumpamaan orang-orang kafir ituadalah  seperti orang yang menyalakan api.. Dalam surat Al-Ankabut ayat 41 Allah mengumpamakan sesembahan atau tuhan orang kafir dengan sarang laba-laba; “Perumpamaan orang-orang yang berlindung selain kepada Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah; padahal rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba. Cara seperti itu juga dapat digunakan oleh orangtua dalam mendidik anak, pengungkapannya tentu sama dengan metode kisah.[21]

Metode Keteladanan, Pribadi Rasul itu adalah interpretasi dari Al-Quran secara nyata. Tidak hanya caranya beribadah, cara kehidupan sehari-hari pun kebanyakan merupakan contoh tentang cara berkehidupan Islami. Secara psikologis ternyata manusia memang memerlukan tokoh teladan dalam hidupnya; ini adalah sifat pembawaan. Taqlid (meniru) adalah satu sifat pembawaan manusia. Peneladanan itu ada dua macam, yaitu sengaja dan tidak sengaja. Keteladanan yang tidak disengaja ialah keteladanan dalam keilmuan, kepemimpinan, sifat keikhlasan, dan sebangsanya. Sedangkan keteladanan yang disengaja ialah seperti memberikan contoh membaca yang baik, mengerjakan shalat yang benar (Nabi bersabda : Shalatlah kamu, sebagaimana shalatku). Keteladanan yang disengaja ialah keteladanan yang memang disertai penjelasan atau perintah agar meneladani. Dalam pendidikan Islam kedua keteladanan itu sama saja pentingnya. Keteladanan yang tidak disengaja dilakukan secara tidak formal; yang disengaja dilakukan secara formal. Keteladanan yang tidak formal itu kadang-kadang kegunaannya lebih besar dari pada kegunaan keteladan formal.[22]

Metode Pembiasaan, Dalam pembinaan sikap, metode pembiasaan sebenarnya cukup efektif. Lihatlah pembiasaan yang dilakukan oleh Rasululloh SAW; perhatikanlah orang tua kita dalam mendidik anaknya. Anak-anak dibiasakan bangun pagi, akan bangun pagi sebagai suatu kebiasaan; kebiasaan itu (bangun pagi), ajaibnya, juga mempengaruhi jalan hidupnya. Dalam mengerjakan pekerjaan lain pun ia cenderung “pagi-pagi”, bahkan sepagi mungkin. Orang yang biasa bersih akan memiliki sikap bersih; ajaibnya, ia juga bersih hatinya, bersih juga pikirannya. Karena melihat inilah ahli-ahli pendidikan semuanya sepakat untuk membenarkan pembiasaan sebagai salah satu upaya pendidikan yang baik dalam pembentukan manusia dewasa.[23]

Metode Ibrah dan Mau’izahIbrah[24] atau i’tibar ialah suatu kondisi psikis yang menyampaikan manusia kepada intisari sesuatu yang disaksikan, yang dihadapi, dengan menggunakan nalar, yang menyebabkan hati mengakuinya. Penggunaan ibrah dalam Al-Quran dan sunnah ternyata berbeda-beda sesuai dengan objek ibrah itu sendiri. pengambilan ibrah dari kisah hanya akan dapat dicapai oleh orang yang berpikir dengan akal dan hatinya seperti firman Allah berikut; “Sesungguhnya pada kisah-kisah itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Isi Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, melainkan membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang yang beriman. (Yusuf; 111)

Esensi ibrah dalam kisah ini ialah bahwa Allah berkuasa menyelamatkan Yusuf setelah dilempar kedalam sumur yang gelap, meninggikan kedudukannya setelah dijebloskan kedalam penjara dengan cara menjadikannya raja Mesir setelah dijual sebagai hamba (budak). Kisah ini menjelaskan kekuasaan Tuhan. Allah mengatakan bahwa ibrah (pelajaran) dari kisah ini hanya dapat dipahami oleh orang yang disebut ulul albab, orang yang berpikir dan berdzikir. Selanjutnya, Mau’izah ialah nasihat yang lembut yang diterima oleh hati dengan cara menjelaskan pahala dan ancamanya. Mau’izah juga berarti Tadzkir (peringatan), Yang memberi nasihat hendaknya berulang kali mengingatkan agar nasihat itu meninggalkan kesan sehingga orang yang dinasehati tergerak untuk mengikuti nasihat itu.[25]

Metode Targhib dan Tarhib, Targhib ialah janji terhadap kesenangan, kenikmatan akhirat yang disertai bujukan. Tarhib ialah ancaman karena dosa yang dilakukan. Targhib bertujuan agar orang mematuhi aturan Allah. Tarhib demikian juga. Akan tetapi, tekananya ialah targhib agar melakukan kebaikan, sedangkan tarhib agar menjauhi kejahatan.[26]

Demikian tujuh metode pendidikan dalam Islam yang pada dasarnya diambil dari buku Ahmad Tafsir yang berjudul Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam. Metode-metode ini sangat cocok sekali untuk diterapkan bagi para orangtua kepada anak. Terutama, diperlukan dalam pendidikan keimanan yang memang merupakan inti dari pendidikan Islam. Wallahu a’lam…


[1] Edukatif/education diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya adalah pendidikan yang merupakan kata benda turunan dari kata kerja bahasa latin educare. Bisa jadi, secara etimologis, kata educare berasal dari dua kata kerja yang berbeda, yaitu educare dan educere. Kata educare dalam bahasa latin memiliki konotasi melatih atau menjinakan. (Didie, 2013)

[2] Lihat Didie Supriadie, Komunikasi Pembelajaran, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2013. Cet ke II, hlm 13

[3] Hery Noer Aly, Watak Pendidikan Islam, Jakarta : Friska Agung Insani, 2008. Cet ke III, hlm 202

[4] Ibid., hlm 202

[5] Thamrin Nasution, Peranan Orangtua dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Anak, Jakarta : Gunung Mulia, 1989, hlm 1

[6] Husain Mazhahiri, Surga Rumah Tangga, Jakarta : Titian Cahya, 2001, hlm 52

[7] Zakiah Drajat, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, Jakarta : Ruhama, 1995, hlm 64

[8] Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid (2010). Prophetic Parenting: Cara Nabi Saw Mendidik Anak dari Manhaj at-Tarbiyyah an-Nabawiyyah lith Thifl. (Alih Bahasa Farid Abdul Aziz Qurusy). Yogyakarta: Pro-U Media, hlm 298

[9] Ibid., hlm 330

[10] Lihat Ibid., hlm 353-379

[11] Hery Noer Aly, Watak Pendidikan Islam, Jakarta : Friska Agung Insani,…. hlm 159

[12] Dalam KBBI (Online), Internalisasi adalah suatu doktrin atau nilai sehingga merupakan keyakinan dan kesadaran akan kebenaran doktrin atau nilai yang diwujudkan dalam sikap dan prilaku.

[13] Sofyan Sauri, Pendidikan Karakter dalam Persfektif Islam, Bandung: Rizki Press, 2015. Cet ke III, hlm 159

[14] Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid (2010). Prophetic Parenting: Cara Nabi Saw Mendidik Anak,…… hlm 398-399

[15] Sofyan Sauri, Pendidikan Karakter dalam Persfektif Islam,… hlm 161

[16] Lihat Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid (2010). Prophetic Parenting: Cara Nabi Saw Mendidik Anak,…… hlm 398- 411

[17] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam, Bandung; Remaja Rosdakarya, 2014. Cet ke XI, hlm 131-135

[18] Rasululloh SAW dalam pembelajaran bidang pemantapan Tauhid diantaranya suka dengan cara dialog yaitu dengan mengajak kaum Quraisy membahas prinsip umum tentang ketuhanan yang berbeda antara beliau dengan mereka; apakah asas ketuhanan Tauhid (Monotheisme) atau Politheisme; memberi khabar takut mereka dengan berita akan datangnya hari kiamat, hari kebangkitan, perhitungan yang diikuti dengan adanya pahala dan siksa. (Ramayulis, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta; Kalam Mulia, 2011, hlm 37)

[19] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam, Bandung; Remaja Rosdakarya, 2014… hlm 136-140

[20] Ibid., hlm 140-141

[21] Ibid., hlm 141-142

[22] Ibid., hlm 142-144

[23] Ibid., hlm 144

[24] Kata ibrah berasal dari kata abara-ya’buru-abratan wa’ibratan yang pada asalnya berarti menyebrang dari satu tepi sungai ketepi yang lain yang ada di seberangnya. Karenanya, sampan penyebrangan dalam bahasa Arab disebut abbarah. Jadi, seseorang yang mengambil ibrah artinya ia menyebrang suatu peristiwa yang terjadi pada orang lain ke arah dirinya (pengajaran). Dalam (Musyafa.com, membina diri, membangun umat).

[25] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam, …. hlm 145-146

[26] Ibid., hlm 146-147




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

Write a comment

Ada 3 Komentar untuk Berita Ini

View all comments

Write a comment